Friday, October 2, 2009

P U R U S A D A


ONE OF THE WORLD CULTURAL HERITAGE IN BALI



Kabupaten Badung adalah salah satu kabupaten yang terletak di bagian selatan Pulau Bali. Di Kabupaten Badung inilah terdapat kawasan pariwisata yang sudah terkenal di dunia antara lain Kuta dan Nusa Dua dengan berbagai keindahan lainnya berupa keindahan alam laut, gunung maupun adat istiadatnya.


Diantara keunikan tersebut ada ciri lain di Kabupaten Badung yang belum banyak dikenal oleh masyarakat yaitu bahwa di Kabupaten Badung ini terdapat suatu lagam/gaya arsitektur yang berbeda dengan lagam/gaya arsitektur Bali pada umumnya. Lagam arsitektur ini dapat dilihat pada Pura Sada atau Purusada yang terletak di Desa Kapal, Mengwi.


Berdasarkan hasil wawancara dan buku karya Dr. Soegianto Sastrodiwiryo, 1999 ”Perjalanan Danghyang Nirarta, Sebuah Dharmayatra (1478-1560) dari Daha sampai Tambora”, maka Purusada ini termasuk salah satu pura yang dikunjungi oleh Danhyang.


Apabila diperhatikan maka sebagian besar gaya arsitektur pada Purusada ini menggunakan bata merah, dan uniknya penggunaan bata merah ini hanya digunakan pada Purusada sedangkan bangunan lainnya di daerah Kapal dan sekitarnya tidak diperbolehkan. Pura ini terletak di tepi jalan yang berstatus jalan desa. Dalam kompleks pura ini juga terdapat sebuah bangunan yang mirip candi-candi di Jawa Timur, sehingga dalam tulisannya Dr. Soegianto Sastrodiwiryo mengatakan bahwa candi ini bagaikan miniatur Candi Prambanan, Jawa Tengah. Bangunan candi ini tingginya kurang lebih 16 meter. Beberapa meter sebelah selatan candi-candi terdapat paras segi empat berjajar-jajar teratur yang tertanam dalam tanah mirip pusara-pusara taman makam pahlawan. Jumlah paras tersebut 52 buah.


Berdasarkan legenda, ’pusara-pusara’ dari paras ini merupakan tugu peringatan untuk menghormati para anak buah kapal yang terdampar di pantai Tuban. Mereka datang dari India menuju Nusantara kemudian terdampar di pantai Tuban lalu memilih desa Kapal sebagai tempat bermukim.


Menurut berbagai informasi purusada merupakan salah satu pura yang termasuk dalam World Cultural Herritage atau Warisan Budaya Dunia sehingga pura ini juga banyak dikunjungi wisatawan terutama wisatawan mancanegara.



Tuesday, August 18, 2009

P E J E N G


SITUS PURBAKALA DI PROVINSI BALI


Salah satu tempat wisata yang ada di Provinsi Bali dan layak untuk dikunjungi adalah areal situs purbakala. Situs Purbakala di Bali yang banyak ditemukan adalah di Kabupaten Gianyar, dan salah satunya adalah situs purbakala “Pejeng”.


Situs purbakala ini terletak di Banjar Sawagunung, Desa Pejeng Kelod, Kecamatan Tampaksiring. Lokasi ini juga terletak se-jalur dengan jalan menuju Tampaksiring dan Kintamani serta berdekatan dengan obyek wisata Goa Gajah, Ubud. Pejeng sendiri merupakan kawasan peninggalan penting sejak jaman Kerajaan Hindu – Bali yaitu pada masa Raja Udayana. Pada wilayah Pejeng terdapat beberapa peninggalan kuno dalam bentuk stupa yang tersimpan di tengah (jaba) beberapa pura di wilayah tersebut.


Pura Pengukur-ukuran

Pura Pengukur-ukuran merupakan salah satu pura yang telah dibangun sejak pada akhir abad ke – 12, oleh Raja Jayapangus. Pura ini terletak di tepi DAS (Daerah Aliran Sungai) Tukad Pakerisan dan memiliki situs peninggalan kuno berupa Goa Garba (gua perut/ peranakan). Pura ini memiliki cerita/legenda bahwa segala arah penjuru Bali diukur melalui Pura Pengukur-ukuran guna mencari titik tengah Pulau Bali. Pada halaman tengah Pura Pengukur-ukuran terdapat peninggalan pra-Hindu megalith, batu berukir Ganesha, dan sebuah batu ambangan pintu yang bertuliskan tahun 1116 Saka sama dengan AD 1194. Dalam tulisan itu disebutkan nama Dharma Anyar yang kemungkinan adalah nama Pura Pengukur-ukuran dahulunya, serta ornamen-ornamen berciri khas tertentu pada tempat suci/keramat.


Di bagian belakang Pura, terdapat Candi Agung yang bercirikan arsitektur Jawa.


Di bagian sisi luar dari Pura atau di bagian Barat sungai Pakerisan bisa ditemukan susunan batu-batu besar (seperti tangga) yang mengarah ke Goa Garba dan Gapura kuno (Candi Bentar), pada susunan batu-batu tersebut tampak jejak tapak dari Patih Kebo Iwa, saat menekankan kakinya untuk membenamkan/ menyusun bebatuan tersebut. Hal ini juga dikaitkan dengan adanya legenda bahwa Patih Kebo Iwa dulunya juga melatih dirinya di Pura ini.


Di tepi kiri dari pada Gapura terdapat pancuran, pemandian, dan kolam pemandian Raja dan Ratu, masing-masing terletak di atas cerukan pertapaan sedangkan pada tepi kolam terdapat gua yang disebut Goa Garba biasanya digunakan sebagai tempat bermeditasi, di dinding atas dari cerukan pertapaan bias dilihat huruf kadiri yang berbunyi “sri” (menurut infromasi belum ditemukan arti sebenarnya). Dibagian bawah dari Goa Garba (setelah menuruni tangga) dapat ditemukan beberapa peninggalan kuno berupa arca dan relief-relief kuno. Arca dan relief kuno tersebut beberapa terletak di bawah Goa Garba dan sebagian lagi terletak di sisi timur Sungai/Tukad Pakerisan.

Thursday, August 13, 2009

LANDSCAPE


VEGETASI SEBAGAI ELEMEN PENANDA DI BALI


Bali dikenal dengan konsep Tri Hita Karana, sedangkan dalam ruang terdapat konsep Tri Mandala maupun Sanga Mandala. Berbagai konsep keruangan tersebut telah berakar sehingga hampir dalam seluruh perikehidupan masyarakatnya juga mengadopsi konsep-konsep tersebut.Dalam kaitannya dengan keruangan tersebut maka ruang luar di Bali juga telah terbentuk menjadi titik-titik yang dapat dicirikan melalui beberapa elemen tertentu, misalnya: tingkatan/hirarkipura, dan lain sebagainya. Menurut penulis, salah satu elemen penanda di Bali yang berfungsi cukup penting adalah vegetasi.

Vegetasi di pulau ini selain berfungsi estetis/keindahan, digunakan sebagai pelengkap upacara, juga memberikan identitas bagi suatu tempat. Melalui tulisan ini, akan dikemukakan tiga jenis tanaman yang berfungsi sebagai elemen penanda ruang serta manfaatnya dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali.
  • Kepuh (Sterc ulia foetida linn). Kepuh merupakan tanaman yang biasanya digunakan sebagai tanaman penanda adanya setra/kuburan. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman meranggas sehingga hampir sepanjang tahun tanaman ini terlihat tidak berdaun.
  • Beringin (Ficus benjamina). Beringin juga merupakan tanaman yang biasanya digunakan sebagai tanaman penanda adanya pusat kegiatan antara lain: pusat desa, maupun setra/kuburan. Tanaman ini merupakan tanaman yang mempunyai umur hidup yang cukup lama dan dedaunannya banyak digunakan dalam upacara keagamaan.
  • Kamboja atau Jepun (Plumeria SP). Kamboja dalam bahasa Bali disebut juga Jepun. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman estetis yang memberikan kesan indah. Tanaman ini selain untuk memberikan keindahan lingkungan/halaman maka juga sering dipergunakan dalam upacara-upacara keagamaan.

Selain ketiga jenis vegetasi diatas masih terdapat beberapa vegetasi yang juga banyak dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat Bali terutama untuk sebagai pelengkap dalam upacara keagamaan.


Monday, August 10, 2009

AMED, TULAMBEN

KEHIDUPAN PETANI LADANG GARAM DI AMED & MASA DEPANNYA


Memprihatinkan jika melihat kondisi petani ladang garam di Ds. Amed – Ds. Lebah, Desa Purwakerthi, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Bagaimana tidak jika dilihat dari segi ekonomis, pendapatan mereka dari hasil penjualan garam ini tidaklah seberapa dibandingkan dengan tingkat kebutuhan hidup saat ini yang cukup tinggi.

Kehidupan bertani garam bagi masyarakat Amed sendiri sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat hal ini dapat dilihat dari semakin sempitnya areal untuk pembuatan garam atau yang disebut masyarakat setempat sebagai ‘ladang’ garam.

Mulai berkurangnya kegiatan ini sangat disayangkan karena kegiatan ini menurut pengamatan kami tidak dapat ditemukan lagi di wilayah pesisir Pulau Bali terutama sehingga menjadi satu-satunya aktivitas pembuatan garam secara tradisional “Bali” yang masih ‘eksis’ hingga saat ini. Secara garis besar aktivitas pembuatan garam secara tradisional ini dapat dilihat pada diagram berikut ini.

















Selain itu aktivitas ini berlangsung di dalam kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pariwisata (sebagaimana ditetapkan dalam Perda Provinsi Bali No. 3 Tahun 2005 tentang RTRW Provinsi Bali) yaitu Kawasan Pariwisata Tulamben. Dengan sendirinya kegiatan/aktivitas ini dapat menjadi salah satu penunjang kegiatan wisata yang ada terutama untuk wisata di daratan (karena Tulamben merupakan salah satu spot wisata bawah laut terbaik dunia (untuk olahraga snorkeling dan diving)). Kegiatan perladangan ini tidaklah berlebihan jika diangkat sebagai salah satu daya tarik wisata karena seperti yang digambarkan dalam diagram diatas kegiatan ini menggunakan berbagai fasilitas penunjang serta melewati beberapa proses yang cukup unik.

Saat ini masyarakat setempat juga telah mencoba menjual garam hasil olahannya ke wisatawan dalam bentuk souvenir, namun menurut pengamatan kami hasil olahannya secara kualitas kurang memadai sehingga tidak menarik untuk dijadikan ‘oleh-oleh’ (buah tangan) walaupun kemasan penjualan garam sebenarnya cukup menarik (lihat foto). Dalam menjual garam masyarakat juga sebenarnya sudah cukup tertib yaitu dengan menggunakan kios atau ‘stand’ di sepanjang jalan utama kawasan tetapi dengan kondisi yang kurang tertata sehingga lebih terkesan semrawut.

Permasalahan ini mungkin bukanlah seperti bencana alam dan lain sebagainya yang memerlukan penanganan secepatnya, terutama karena jika ditanganipun hanya akan berimbas pada naiknya tingkat kehidupan beberapa nelayan di Amed yang masih membuat garam secara tradisional. Tetapi ini sangat terkait dengan ‘kelestarian budaya atau yang dikenal oleh masyarakat Bali sebagai ‘ajeg Bali’ karena punahnya kegiatan ini akan mengakibatkan hilangnya suatu warisan budaya leluhur dari Pulau Bali bahkan bagi Indonesia. Oleh sebab itu melalui kesempatan ini kiranya perlu segera dilakukan tindakan konservasi dibarengi revitalisasi kawasan ini secara umum dan terpadu dengan berbagai kegiatan lain yang ada sehingga kemungkinan hilangnya salah satu budaya masyarakat pesisir Bali Timur ini dapat dicegah.